Kamis, 20 Desember 2012

Perbandingan Beberapa Mata Kuliah Semester 5 yang Dikaitkan dengan Beberapa Teori Belajar


Tugas UAS pada mata kuliah Psikologi Belajar adalah berkaitan dengan pandangan penugasan pada mata kuliah Psikologi Belajar dengan mata kuliah lain pada semester 5 ini. Alasan saya memilih ini sebagai kerangka saya untuk membuat tugas adalah karena ketertarikan saya untuk membandingkan cara penugasan yang diberikan oleh dosen ataupun atas kesepakatan mahasiswa pada mata kuliah tertentu dengan mata kuliah lainnya di semester yang sama. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa yang memiliki pandangan dan kesenangan tersendiri dalam cara penugasan di matakuliah yang satu dibandingkan mata kuliah yang lainnya karena setiap mata kuliah memberikan cara penugasan yang berbeda-beda untuk mahasiswa. Karena ketika kita lebih tertarik terhadap suatu pekerjaan yang diberikan, maka kita juga akan lebih mudah dan senang dalam proses menyelesaikan tugas ataupun pekerjaan tersebut.
           Pada tugas ini saya akan menejelaskan atau memilih 5 dari 9 mata kuliah yang ada pada semester 5 ini untuk saya bandingkan. Kelima mata kuliah tersebut yaitu, Psikologi Belajar, Inventori Kepribadian, Perilaku Sosial Menyimpang, Psikologi Abnormal, dan PPSDM. Ini  dikarenakan kelima mata kuliah yang saya pilih memiliki cara penugasan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam cara memberikan tugas ini akan mempermudah untuk membandingkan setiap mata kuliah tersebut. Selain itu, kita menjadi akan semakin paham dan mengerti bahwa banyak metode yang coba diciptakan oleh dosen atau cara pemberian tugas oleh dosen untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

Psikologi Belajar
           Ini merupakan mata kuliah yang lebih menuntut pemikiran kita untuk terbuka dan kreatif. Dosen akan memberikan tugas untuk menampilkan hasil postingan para mahasiswa di blog sesuai deadline yang telah ditentukan. Selain harus membuat postingan di blog, dosen juga sering memberi tugas untuk menciptakan suatau karya yang imajinatif, menarik, dan baik untuk di tampilkan di blog ataupun di praktekkan di kelas saat pembelajaran dimulai. Kami dituntut untuk mampu berfikir luas dan terbuka terhadap penugasan yang diberikan. Biasanya tugas tersebut untuk menguji sejauh mana pemahaman kita para mahasiswa terhadap buku ataupun materi yang ada. Setiap minggunya mahasiswa diharuskan untuk membaca materi yang akan di ajarkan besok.

Inventori Kepribadian
    Materi pada matakuliah ini ialah pengenalan terhadap berbagai macam jenis alat tes, cara pengadministrasian alat tes, dan juga cara menilai hasil tes yang telah didapat. Tugas yang diberikan oleh dosen pun berkaitan dengan materi tersebut yaitu membuat sebuah alat tes psikologi yang sederhana. Setiap minggunya kami akan disuruh untuk mengumpulkan secara menyicil proses pembuatan alat tes psikologi yang kami ciptakan tersebut. Selain itu, saat materi pembelajaran berisi tentang pengenalan alat tes, maka tugas kami adalah menghitung atau belajar bagaimana cara mendapatkan nilai pada hasil tes tersebut dan menyimpulkannya secara sederhana. Itulah tugas-tugas yang ada pada matakuliah Inventori Kepribadian.

PPSDM
        Untuk mata kuliah PPSDM, penugasan yang diberikan juga berbeda. Pada mata kuliah ini, setiap minggunya harus mengumpulkan tugas yang telah diberikan dosen. Tugas tersebut harus dikerjakan secara berkelompok dan jika ada satu orang pun yang tidak ikut berkontribusi dalam menyelesaikan tugas tersebut, maka dosen meminta untuk melaporkannya kepada dosen. Berbeda dengan tugas pada mata kuliah inventori kepribadian yang tidak mengharuskan mahasiswa untuk menyelesaikannya senditi, tugas di PPSDM ini haruslah dilakukan atau dikerjakan secara berkelompok. Selain itu juga ada penugasan untuk membuat powerpoint dari materi yang akan dipresentasikan oleh satu kelompok di setiap minggunya. Tugas pada mata kuliah ini menuntut kita para mahasiwa untuk mampu bekerjasama dan bekerja di dalam kelompok dengan baik.

Perilaku Sosial Menyimpang
     Selain itu, ada mata kuliah Perilaku Sosial Menyimpang. Mata kuliah ini tidak ada presentasi kelompok, tidak ada tugas individu yang harus dikumpulkan setiap minggunya. Hanya saja tugas yang diberikan oleh dosen setelah dosen selesai menerangkan harus dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok harus mencar kasus di koran atau media massa sesuai dengan topik yang akan dibahas pada hari tersebut. Setelah itu, berdasarkan kasus yang didapat dan penjelasan ataupun materi yang telah didapat dari dosen, maka setiap kelompok diharuskan untuk membahas kasus tersebut sesuai teori atau topik yang telah diajarkan. Di mata kuliah ini para mahasiswa tidak diberi tugas untuk mempresentasikan materi pembelajaran. Hanya saja tugas setiap minggu yang dikerjakan secara berkelompok harus dikerjakan sesuai dengan penguasaan kita terhadap materi tersebut.

Psikologi Abnormal
        Yang terakhir ialah mata kuliah Psikologi Abnormal. Pada mata kuliah ini, setiap minggunya akan ada satu kelompok yang presentasi dan menerangkan topik yang sedang dipelajari. Sebelumnya, akan ada tugas untuk membuat sebuah makalah berdasarkan topik yang diberikan kepada kelompok. Tidak ada penugasan lain selain membuat makalah dan mempresentasikannya di depan kelas. Setelah kelompok presenter mempresentasikan materi pembelajaran, maka para mahasiswa lainnya yang mendengarkan haruslah memberikan pertanyaan. Jika ada pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa kepada kelompok presenter, maka mahasiswa tersebut akan mendapatkan reward berupa point untuk tambahan nilai. Diakhir waktu, dosen akan meringkas kembali topik-topik yang lebih penting untuk diingat dan memperbaiki hal-hal atau penjelasan yang kurang tepat saat presenter menyampaikannya.

        Kelima mata kuliah tersebut memiliki persamaan dan perbedaan. Beberapa persamaan yang terlihat adalah bahwa para dosen akan memberikan tugas sesuai dengan apa yang mereka tentukan, bukan berdasarkan apa yang mahasiswa inginkan. Selain itu, penugasan yang diberikan sama-sama bertujuan untuk membangun softskill yang ada pada diri setiap mahasiswa baik itu kreatifitas, kemampuan berkomunikasi didalam kelompok, ataupun kemampuan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain dengan baik. Perbedaan dari setiap mata kuliah di atas adalah ada mata kuliah yang menuntut untuk presentasi di depan kelas setiap minggunya, ada mata kuliah yang menuntut untuk memberikan hasil postingannya di blog, ada juga yang membutuhkan kemampuan untuk berdiskusi dalam menyelesaikan tugas di dalam kelompok, dan lain sebagainya.
      Setelah saya membandingkan kelima mata kuliah yang ada di semester 5 ini, maka saya akan menghubungkan system pengajaran ataupun proses belajar-mengajar yang ada di kelima mata kuliah ini dengan teori belajar yang telah saya pelajari di mata kuliah psikologi belajar. Pada tugas kali ini saya akan membahas pandangan penugasan di kelima mata kuliah ini dengan 3 teori pendekatan yaitu teori pengkondisian berpenguat dari B.F Skinner, teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, dan teori kondisi belajar dari Robert Gagne.

Teori Belajar Pengkondisian Berpenguat dari B.F Skinner
        Yang pertama ialah teori belajar pengkondisian berpenguat dari B.F Skinner. Di dalam teori ini dikatakan bahwa ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi kontingensi penguatan, yaitu :
1.      tingkat keterampilan seseorang,
2.      sejarah penguatan di masa lalu,
3.      anugerah genetik, dan
4.      mekanisme survival yang sukses pada manusia awal.

Sedangkan penguatan itu sendiri terdiri dari dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Dalam penguatan positif, respon memproduksi stimulus baru. Sebaliknya, penguatan  negatif adalah penarikan stimulus diskriminatif. Persamaan dari penguatan ini adalah konsekuensinya memperkuat perilaku.
Untuk kelima mata kuliah yang telah diuraikan diatas, maka mata kuliah yang sesuai dengan teori belajar dari B.F Skinner adalah mata kuliah Psikologi Abnormal. Karena di mata kuliah ini, setiap mahasiswa yang memberikan pertanyaan kepada kelompok akan mendapatkan poin tambahan nilai (dalam hal ini ialah penguatan positif) dan jika tidak ada satu orang pun yang mengajukan pertanyaan maka para presenter atau dosen (Bu Wiwik) yang akan mengajukan pertanyaan. Itu merupakan bentuk dari pembelajaran B.F Skinner yang diterapkan di mata kuliah psikologi belajar. Penguatan ataupun hukuman (punishmen)t yang diberikan oleh dosen pengampu akan sangat mempengaruhi para mahasiswa untuk aktif di dalam kelas.
  
 Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget 
Teori yang kedua ialah teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget. Teori ini mengatakan bahwa ada empat tahapan perubahan kualitatif dalam proses penalaran. Yaitu :
1.      periode sensori motor (kelahiran – 1 tahun),
2.      periode praoperasional (2-3 hingga 7-8 tahun),
3.      periode operasional konkret (7-8 hingga 12-14 tahun), dan
4.      periode operasional formal (diatas 14 tahun).
Berdasarkan empat tahapan tersebut maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa sudah berada di tahap periode operasional formal berdasarkan umurnya. Tahap periode operasional formal yaitu tahap dimana kapabilitas untuk secara logis menangani situasi multifaktor mulai muncul. Individu dapat mendeduksi berbagai kemungkinan dan secara sistematis mengesampingkannya. Penalaran bergerak dari situasi hipotesis ke konkret. Fokus teori Piaget adalah mengembangkan pemikiran logis. Pemelajar mengkonstruksi pengetahuan melalui riset mandiri dan kerjasam dengan temannya. Peran guru adalah mengorganisasikan dan menciptakan situasi yang memberikan masalah yang bermakna dan mengajukan pertanyaan yang mendalam yang akan membangkitkan pemikiran anak.
Uraian ini telah diterapkan pada matakuliah psikologi belajar, perilaku sosial menyimpang, dan PPSDM. Dimana ketiga mata kuliah ini sama-sama menuntut untuk kita mampu berdiskusi dengan kelompok dalam menyelesaikan tugas, mencoba mengembangkan pemikiran kita secara individu berdasarkan dari ilmu yang telah didapat, dan memikirkan atau menciptakan sesuatu yang baru dari hal atau ilmu yang telah didapat. Selain itu, kita di latih untuk dapat memecahkan situasi multifaktor karena telah mampu untuk mengkonseptualisasikan semua kombinasi faktor dalam situasi tertentu.

Teori Kondisi Belajar dari Robert Gagne
            Yang terakhir ialah teori kondisi belajar dari Robert Gagne. Robert mengatakan bahwa ada tiga prinsip dari pembelajaran yang efektif dalam analisis tugas latihan. Yaitu :
1.      memberikan pembelajaran mengenai seperangkat tugas-tugas komponen yang diarahkan untuk membangun tugas final,
2.      memastikan bahwa setiap tugas komponen dikuasai, dan
3.      sekuensi tugas komponen untuk memastikan transfer yang optimal ke tugas final.
Robert Gagne juga menjelaskan mengenai lima variasi belajar. Yaitu :
1.      Informasi verbal. Pengambilan informasi yang tersimpan.
2.      Keterampilan intelektual. Operasi mental yang memungkinkan individu untuk merespon konseptualisasi lingkungan.
3.      Strategi kognitif. Proses control pelaksana yang mengatur pemikiran dan belajar dari pemelajar.
4.      Keterampilan motorik. Kapabilitas dan “rencana eksekutif” untuk melakukan sekuensi gerakan fisik, dan
5.      Sikap. Predisposisi ke tindakan positif atau negatif terhadap orang, objek, atau peristiwa.
Salah satu yang dibahas oleh Gagne adalah berkaitan dengan komponen esensial dalam belajar dan pembelajaran. Dikatakan bahwa kondisi belajar internal yang berinteraksi dengan stimulus dari lingkungan akan menghasilkan suatu hasil belajar berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Dari penjelasan ini, maka mata kuliah yang sesuai dengan teori belajar Gagne salah satunya adalah inventori kepribadian. Karena stimulus yang diberikan oleh dosen akan menuntut kita untuk menghasilkan suatu pembelajaran baik dari informasi verbal, keterampilan intelektual, ataupun strategi kognitif.
Secara luas tidak hanya mata kuliah Inventori Kepribadian saja yang menerapkan metode belajar yang sesuai dengan teori Gagne, melainkan keempat mata kuliah lainnya. Karena sesungguhnya teori belajar gagne adalah teori belajar yang sangat kompleks dimana semua metode tercakup di dalamnya. Jadi, kelima mata kuliah yang telah di uraikan diatas dapat dikatakan atau dapat digolongkan ke dalam bentuk pembelajaran yang menggunakan teori gagne khususnya berkaitan dengan lima variasi belajar seperti yang telah diuraikan diatas.

Kesimpulan
       Secara keseluruhan tidak ada yang salah dari metode atau system pengajaran yang telah diterapkan di lima mata kuliah yang berbeda ini. Semua telah menggunakan cara pembelajaran yang telah sesuai. Semua itu harus disesuaikan dan tergantung dari tujuan pembelajaran dari setiap mata kuliah itu sendiri. Karena ketika suatu tujuan dari pembelajaran tersebut mampu dicapai, maka dapat dikatakan bahwa metode belajar yang telah diterapkan adalah metode belajar yang sesuai untuk matakuliah tersebut. Jadi, setiap mata kuliah telah menggunakan cara pembelajaran yang benar.

Daftar Pustaka:
Gredler, M. E. (2011). Learning and Instruction. Teori dan Aplikasi: edisi keenam. Jakarta: Kencana.

Rabu, 19 Desember 2012

Tugas UAS Psikologi Belajar

Tugas UAS nomor dua yang saya pilih ialah berkaitan dengan pandangan penugasan pada mata kuliah psikologi belajar dengan mata kuliah lain pada semester 5 ini. Alasan saya memilih tugas dua ini sebagai kerangka saya untuk membuat tugas adalah karena ketertarikan saya untuk membandingkan cara penugasan yang diberikan oleh dosen ataupun atas kesepakatan mahasiswa pada mata kuliah tertentu dengan mata kuliah lainnya di semester yang sama. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa yang memiliki pandangan dan kesenangan tersendiri dalam cara penugasan di mata kuliah yang satu dibandingkan mata kuliah yang lainnya karena setiap mata kuliah memberikan cara penugasan yang berbeda-beda dengan mahasiswa. Ini yang menjadi ketertarikan tersendiri untuk saya memilih tugas nomor dua. Karena ketika kita lebih tertarik terhadap suatu pekerjaan yang diberikan, maka kita juga akan lebih mudah dan senang dalam proses menyelesaikan tugas ataupun pekerjaan tersebut.
     Pada tugas ini saya akan menejelaskan atau memilih 5 dari 9 mata kuliah yang ada pada semester 5 ini untuk saya bandingkan. Kelima mata kuliah tersebut yaitu, psikologi belajar, inventori kepribadian, perilaku sosial menyimpang, psikologi abnormal, dan PPSDM. Ini  dikarenakan kelima matakuliah yang saya pilih memiliki cara penugasan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam cara memberikan tugas ini akan mempermudah untuk membandingkan setiap mata kuliah tersebut. Selain itu, kita menjadi akan semakin paham dan mengerti bahwa banyak metode yang coba diciptakan oleh dosen atau cara pemberian tugas oleh dosen untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. 
   Matakuliah pertama yang akan dijelaskan ialah psikologi belajar. Ini merupakan mata kuliah yang lebih menuntut pemikiran kita untuk terbuka dan kreatif. Dosen akan memberikan tugas untuk menampilkan hasil postingan para mahasiswa sesuai deadline yang telah ditentukan. Selain harus membuat postingan di blog, dosen juga sering memberi tugas untuk menciptakan suatau karya yang imajinatif, menarik, dan baik untuk di tampilkan di blog ataupun di praktekkan di kelas saat pembelajaran dimulai. Kami dituntut untuk mampu berfikir luas dan terbuka terhadap penugasan yang diberikan. Biasanya tugas tersebut untuk menguji sejauh mana pemahaman kita para mahasiswa terhadap buku ataupun materi yang ada. Setiap minggunya mahasiswa diharuskan untuk membaca materi yang akan di ajarkan besok.
    Mata kuliah kedua yang ada ialah inventori kepribadian. Materi pada matakuliah ini ialah pengenalan terhadap berbagai macam jenis alat tes, cara pengadministrasian alat tes, dan juga cara menilai hasil tes yang telah didapat. Tugas yang diberikan oleh dosen pun berkaitan dengan materi tersebut yaitu membuat sebuah alat tes psikologi yang sederhana. Setiap minggunya kami akan disuruh untuk mengumpulkan secara menyicil proses pembuatan alat tes psikologi tersebut. Selain itu, saat materi pembelajaran berisi tentang pengenalan alat tes, maka tugas kami adalah menghitung atau belajar bagaimana mendapatkan nilai pada hasil tes tersebut dan menyimpulkannya secara sederhana. Itulah tugas-tugas yang ada pada matakuliah inventori kepribadian.
   Untuk mata kuliah PPSDM, penugasan yang diberikan juga berbeda. Pada mata kuliah ini, setiap minggunya harus mengumpulkan tugas yang telah diberikan dosen. Tugas tersebut harus dikerjakan secara berkelompok dan jika ada satu orang pun yang tidak ikut berkontribusi dalam menyelesaikan tugas tersebut, maka dosen meminta untuk melaporkannya kepada dosen. Berbeda dengan tugas pada mata kuliah inventori kepribadian yang tidak mengharuskan mahasiswa untuk menyelesaikannya senditi, tugas di PPSDM ini haruslah dilakukan atau dikerjakan secara berkelompok. Selain itu juga ada penugasan untuk membuat powerpoint dari materi yang akan dipresentasikan oleh satu kelompok di setiap minggunya. Tugas pada mata kuliah ini menuntut kita para mahasiwa untuk mampu bekerjasama dan bekerja di dalam kelompok dengan baik.
    Selain itu, ada mata kuliah perilaku sosial menyimpang. Mata kuliah ini tidak ada presentasi kelompok, tidak ada tugas individu yang harus dikumpulkan setiap minggunya. Hanya saja tugas yang diberikan oleh dosen setelah dosen selesai menerangkan haruslah dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok harus mencar kasus di koran atau media masa sesuai dengan topik yang akan dibahas pada hari tersebut. Setelah itu, berdasarkan kasus yang didapat dan penjelasan ataupun materi yang telah didapat dari dosen, maka setiap kelompok diharuskan untuk membahas kasus tersebut sesuai teori atau topic yang telah diajarkan. Di matakuliah ini para mahasiswa tidak diberi tugas untuk mempresentasikan materi pembelajaran. Hanya saja tugas setiap minggu yang dikerjakan secara berkelompok harus dikerjakan sesuai dengan penguasaan kita terhadap materi tersebut.
    Yang terakhir ialah mata kuliah psikologi abnormal. Pada mata kuliah ini, setiap minggunya akan ada satu kelompok yang presentasi dan menerangkan topik yang sedang dipelajari. Sebelumnya, akan ada tugas untuk membuat sebuah makalah berdasarkan topik yang diberikan kepada kelompok. Tidak ada penugasan lain selain membuat makalah dan mempresentasikannya di depan kelas. Setelah kelompok presenter mempresentasikan materi pembelajaran, maka para mahasiswa lainnya yang mendengarkan haruslah memberikan pertanyaan. Jika ada pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa kepada kelompok presenter, maka mahasiswa tersebut akan mendapatkan reward berupa point untuk tambahan nilai. Diakhir waktu, dosen akan meringkas kembali topic-topik yang lebih penting untuk diingat dan memperbaiki hal-hal atau penjelasan yang kurang tepat saat presenter menyampaikannya.
    Kelima mata kuliah tersebut memiliki persamaan dan perbedaan. Beberapa persamaan yang terlihat adalah bahwa para dosen akan memberikan tugas sesuai dengan apa yang mereka tentukan, bukan berdasarkan apa yang mahasiswa inginkan. Selain itu, penugasan yang diberikan sama-sama bertujuan untuk membangun soft skill yang ada pada diri setiap mahasiswa baik itu kreatifitas, kemampuan berkomunikasi didalam kelompok, ataupun kemampuan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain dengan baik. Perbedaan dari setiap mata kuliah di atas adalah ada mata kuliah yang menuntut untuk presentasi di depan kelas setiap minggunya, ada mata kuliah yang menuntut untuk memberikan hasil postingannya di blog, ada juga yang membutuhkan kemampuan untuk berdiskusi dalam menyelesaikan tugas di dalam kelompok, dan lain sebagainya.
   Setelah saya membandingkan kelima mata kuliah yang ada di semester 5 ini, maka saya akan menghubungkan system pengajaran ataupun proses belajar-mengajar yang ada di kelima mata kuliah ini dengan teori belajar yang telah saya pelajari di mata kuliah psikologi belajar. Pada tugas kali ini saya akan membahas pandangan penugasan di kelima mata kuliah ini dengan 3 teori pendekatan yaitu teori pengkondisian berpenguat dari B.F Skinner, teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, dan teori kondisi belajar dari Robert Gagne.
    Yang pertama ialah teori belajar pengkondisian berpenguat dari B.F Skinner. Di dalam teori ini dikatakan bahwa ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi kontingensi penguatan, yaitu : tingkat keterampilan seseorang, sejarah penguatan di masa lalu, anugerah genetik, dan mekanisme survival yang sukses pada manusia awal. sedangkan penguatan itu sendiri terdiri dari dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Untuk kelima mata kuliah yang telah diuraikan diatas, maka mata kuliah yang sesuai dengan teori belajar dari B.F Skinner adalah mata kuliah psikologi belajar. Karena di mata kuliah ini, setiap mahasiswa yang memberikan pertanyaan kepada kelompok akan mendapatkan poin tambahan nilai dan jika tidak ada satu orang pun yang mengajukan pertanyaan maka para presenter atau dosen (Bu Wiwik) yang akan mengajukan pertanyaan. Itu merupakan bentuk dari pembelajaran B.F Skinner yang diterapkan di mata kuliah psikologi belajar. Penguatan ataupun punishment sangat mempengaruhi para mahasiswa berperilaku. Selain penguatan, dosen juga dapat menggunakan teknologi dari Skinner dengan tiga cara. Yakni : menggunakan stimuli diskriminatif dan penguatan dalam interaksi di kelas secara tepat, mengimplementasikan langkah – langkah pembentukan di dalam pengajaran, dan menyusun materi pengajaran yang diindividualisasikan.
    Teori yang kedua ialah teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget. Teori ini mengatakan bahwa ada empat tahapan dalam proses penalaran. Yaitu : periode sensori motor (kelahiran – 1 tahun), periode praoperasional (2-3 hingga 7-8 tahun), periode operasional konkret (7-8 hingga 12-14 tahun), dan periode operasional formal (diatas 14 tahun). Berdasarkan empat tahapan tersebut maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa sudah berada di tahap periode operasional formal, yaitu tahap dimana kapabilitas untuk secara logis menangani situasi multifactor mulai muncul. Individu dapat mendeduksi berbagai kemungkinan dan secara sistematis mengesampingkannya. Penalaran bergerak dari situasi hipotesis ke konkret. Focus teori Piaget adalah mengembangkan pemikiran logis. Pemelajar mengkonstruksi pengetahuan melalui riset mandiri dan kerjasam dengan temannya. Peran guru adalah mengorganisasikan dan menciptakan situasi yang memberikan masalah yang bermakna dan mengajukan pertanyaan yang mendalam yang akan membangkitkan pemikiran anak. Ini telah diterapkan pada matakuliah psikologi belajar, perilaku sosial menyimpang, dan PPSDM diman setiap matakuliah ini menuntut untuk kita mampu berdiskusi dengan kelompok dalam menyelesaikan tugas, mencoba mengembangkan pemikiran kita secara individu berdasarkan dari ilmu yang telah didapat, dan memikirkan atau menciptakan sesuatu yang baru dari hal atau ilmu yang telah didapat.
    Yang terakhir ialah teori kondisi belajar dari Robert Gagne. Robert mengatakan bahwa ada tiga prinsip dari pembelajaran yang efektif dalam analisis tugas latihan. Yaitu : memberikan pembelajaran mengenai seperangkat tugas-tugas komponen yang diarahkan untuk membangun tugas final, memastikan bahwa setiap tugas komponen dikuasai, dan sekuensi tugas komponen untuk memastikan transfer yang optimal ke tugas final. Salah satu yang dibahas oleh Gagne adalah berkaitan dengan komponen esensial dalm belajar dan pembelajaran. Dikatakan bahwa kondisi belajar internal yang berinteraksi dengan stimulus dari lingkungan akan menghasilkan suatu hasil belajar berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Dari penjelasan ini, maka mata kuliah yang sesuai dengan teori belajar Gagne salah satunya adalah inventori kepribadian. Karena stimulus yang diberikan oleh dosen akan menuntut kita untuk menghasilkan suatu pembelajaran baik dari informasi verbal, keterampilan intelektual, ataupun strategi kognitif.
   Tapi secara keseluruhan, saya melihat bahwa tidak ada yang salah dari metode atau system pengajaran yang berbeda-beda di setiap matakuliah. Karen semua itu harus disesuaikan atau tergantung dari tujuan pembelajaran dari setiap mata kuliah itu.ketika suatu tujuan dari pembelajaran tersebut mampu dicapai, maka dapat dikatakan bahwa metode belajar yang telah diterapkan adalah metode belajar yang sesuai untuk matakuliah tersebut.

Daftar Pustaka:
Gredler, M. E. (2011). Learning and Instruction. Teori dan Aplikasi: edisi keenam. Jakarta: Kencana.

Sabtu, 08 Desember 2012

Tugas Individu (Observasi ke SMK Tritech Informatika)

Data observasi yang didapatkan di SMK Tritech adalah :
1.      Nama observer dan nim       : Riana octhaviany 101301079
2.      Kelas yang di observasi        : III TKJ-2
3.      Mata pelajaran/guru             : Agama Islam – Drs. Darfikri
4.      Waktu/durasi observasi        : 11.55 wib – 20 menit
5.      Jumlah siswa dikelas             : 25 orang
6.      Media pembelajaran guru    : Infocus berupa TV untuk menampilkan power point yang telah tersedia dan laptop (teacher centered).
7.      Media pembelajaran siswa   : kertas dan pulpen (pada saat TUK) ; laptop, buku cetak penerbit erlangga, LKS (Lembar Kerja Siswa), buku tulis (saat belajar).
8.      Alat observasi                            : Pulpen, kertas, buku panduan dan kamera.
9.      Situasi fisik kelas                   : Di kelas tersebut terdapat sebuah papan tulis (white board), diatasnya ada sebuah TV, disamping kanan papan tulis tersebut ada sebuah AC, dan disamping kiri papan tulis tersebut ada sebuah kipas angin. Di kelas tersebut juga terdapat sebuah rak besar yang tertempel dengan dinding sebelah kanan pintu masuk. Ada sekitar 28 bangku yang tersedia untuk siswa. Bangku tersebut adalah model bangku kuliah tapi bukan dari kayu melainkan dari besi putih (biasa ditemukan di tempat-tempat bimbingan belajar). Susunan bangku siswa dikelas tidak tersusun rapi dan terlihat berserakan. Meja dan tempat duduk untuk gurunya berada di sisi kanan ruangan tepat dibawah AC yang terbuat dari kayu. Lantai kelas tidak terlalu bersih karena terlihat disudut ruangan banyak debu dan kotoran seperti pasir walaupun tidak ada sampah makanan atau sampah kertas yang berserakan. Tidak terdapat jendela diruangan tersebut dan hanya memiliki 1 pintu untuk keluar ataupun masuk ke ruangan tersebut. Dinding kelas berwarna putih begitu juga dengan lantai yang disesuaikan dengan warna cat pada dinding. Tidak juga terlihat bingkai foto presiden atau burung garuda yang umumnya ada disekolah-sekolah lain. Gambar apa pun tidak ada dalam ruangan tersebut baik dalam bentuk bingkai atau tidak. Jam dinding juga tidak terdapat pada ruang kelas ini.


Tabel pertama yang digunakan sebagai pedoman (kerangka acuan) saat observasi adalah :
Deskripsi
Tahapan
Fungsi
Persiapan belajar
1.      Memperhatikan
Memberi peringatan bagi pemelajar terhadap adanya stimulus
2.      Harapan
Mengorientasikan pemelajar pada tujuan belajar
3.      Pengambilan kembali (informasi relevan dan/atau keterampilan) untuk dibawa ke ingatan kerja
Memberi ingatan tentang kapabilitas yang diinginkan
Akuisisi dan kinerja
4.      Persepsi selektif terhadap cirri stimulus
Memungkinkan penyimpanan stimulus penting secara temporer di dalam ingatan kerja
5.      Pengkodean semantik
Transfer cirri stimulus dan informasi terkait ke dalam ingatan jangka panjang
6.      Pengambilan kembali dan respons
Mengembalikan informasi yang tersimpan ke penggerak respons individual dan mengaktifkan respons
7.      Penguatan
Mengkonfirmasi harapan pemelajar tentang tujuan belajar
Transfer belajar
8.      Pengambilan petunjuk
Memberikan petunjuk tambahan untuk peringatan kapabilitas di waktu mendatang
9.      Kemampuan generalisasi
Memperkaya transfer belajar ke situasi baru
Tabel 5.3 Ringkasan Sembilan Tahapan Belajar

Pada saat mengobservasi kelas III TKJ-2 ini, proses belajar-mengajar yang sedang terjadi adalah hanya kegiatan TUK (Tes Uji Kemampuan) yang diberikan oleh guru bersangkutan kepada murid sebagai bentuk persiapan menghadapi ujian semester pada tanggal 10 desember mendatang. Jadi, tidak begitu banyak informasi ataupun hasil observasi yang didapat karena guru tidak banyak memberikan proses interaksi dengan siswa yang ada.
Berdasarkan tabel yang telah ditentukan untuk digunakan sebagai pedoman (kerangka acuan) saat observasi (tabel pertama), persiapan belajar yang ada pada siswa dan guru adalah baik. Hal ini dapat terlihat saat guru masuk ruang kelas dan langsung memberitahukan tujuan ataupun kegiatan belajar-mengajar mereka hanyalah TUK (Tes Uji Kemampuan), siswa dapat merespon dengan baik dan dengan segera mengeluarkan selembar kertas untuk melaksanakan TUK (Tes Uji Kemampuan) tersebut. Dan pada saat siswa mengerjakan soal pilihan berganda yang diberikan oleh guru, proses akuisisi dan kinerja serta transfer belajar sedang terjadi. Dimana keenam tahapan belajar pada akuisisi dan kinerja serta transfer belajar secara tidak disadari oleh siswa sedang mereka alami ketika menjawab pertanyaan yang tersedia tersebut.

Table kedua yang digunakan sebagai acuan observasi adalah :
Kategori belajar
Kapabilitas
Penampilan
Contoh
Informasi verbal
Pengambilan informasi yang tersimpan
Menyatakan atau mengkomunikasikan informasi tersebut dengan berbagai cara
Penyusunan kalimat definisi patriotism
Keterampilan intelektual
Operasi mental yang memungkinkan individu untuk merespons kon-septualisasi lingkungan
Berinteraksi dengan lingkungan tersebut dengan menggunakan symbol
Membedakan antara merah dan biru; menghitung luas segi-tiga
Strategi kognitif
Proses control pelaksana yang mengatur pemikiran dan belajar dari pe-melajar
Mengelola ingatan, pemikiran, dan peme-lajar seseorang secara efisien
Menyusun kartu ca-tatan untuk penulisan paper
Keterampilan motorik
Kapabilitas dan “rencana eksekutif” untuk mela-kukan sekuensi gerakan fisik
Mendemonstrasikan urutan fisik atau tin-dakan
Mengikat tali sepatu; menunjukkan gerak sayap kupu-kupu
Sikap
Presdisposisi ke tindakan positif atau negative ter-hadap orang, objek atau peristiwa
Memilih tindakan personal terhadap atau menjauh dari objek, peristiwa atau orang
Memilih mengunjungi museum seni; meng-hindari konser music rock
Tabel 5.2 Tinjauan Atas Lima Variasi Belajar

Hasil observasi yang didapat di kelas III TKJ-2 pada saat mereka mengikuti TUK (Tes Uji Kemampuan) dapat dikaitkan dengan tabel 5.2 diatas. Dimana proses yang terlihat saat para siswa mencoba untuk menjawab soal-soal yang tersedia adalah lebih kepada kategori belajar informasi verbal, keterampilan intelektual, dan strategi kognitif.
Pada informasi verbal, dua karakteristik esensial yang ada adalah ia dapat diverbalisasikan (ditulis atau dikatakan) dan setidaknya beberapa kata memiliki makna bagi individual. Kapabilitas dalam kategori ini adalah label dan fakta; seleksi prosa atau puisi yang terkait secara bermakna; dan isi informasi yang tertata. Jadi, pada saat siswa membaca soal yang tersedia, siswa mencoba untuk mengingat kembali materi yang telah dipelajari yang terkait dengan soal tersebut untuk dapat menjawab soal dengan benar. Dalam hal ini ialah proses pengambilan informasi yang tersimpan.
Yang termasuk dalam keterampilan intelektual adalah membedakan, mengombinasikan, menabulasikan, mengklasifikasikan, menganalisis, dan mengkuantifikasikan objek, kejadian, dan symbol-simbol. Keterampilan intelektual terdiri dari empat keterampilan yang berlainan yaitu : belajar diskriminasi, belajar konsep konkret dan definisi, belajar kaidah atau aturan, dan belajar kaidah pada taraf lebih tinggi. Terlihat dari jenis ataupun bentuk soal yang ada ialah ada beberapa soal yang membuat para siswa harus membedakan ayat-ayat yang ada, atau mencoba untuk mengingat aturan-aturan dari berwudhu dan sebagainya. Ini daapt membuat para siswa mengingat kembali denagn keterampilan intelektual.
Strategi kognitif dapat membantu siswa untuk mengelola pemikiran mereka dengan membantu mereka menentukan kapan dan bagaimana menggunakan informasi verbal dan keterampilan intelektual. Pada saat mereka menjawab setiap soal yang ada, strategi kognitif juga diperlukan agar mereka dapat mengelola pemikiran mereka dalam menjawab pertanyaan yang ada.
Jadi kesimpulannya, saat para siswa kelas III TKJ-2 mengikuti TUK (Tes Uji Kemampuan), mereka tidak hanya menggunakan satu dari lima kategori belajar yang ada melainkan lebih dikarenakan ragam dari bentuk soal yang disajikan guru menuntut mereka menggunakan kategori belajar yang berbeda-beda.

 
Komentar
Kelas yang saya observasi dapat dikatakan kelas yang kondusif saat menjalani TUK (Tes UjiKemampuan). Walapupun saat tidak ada guru mereka layaknya murid biasanya yang ribut, salingmengganggu, dan sebagainya. Tapi ketika mereka mengikuti ujian, mereka dapat dengankondusif mengikui tes tesebut. Dari sudut lain saya melihat bahwa kelas ini kurang menunjukkankelas yang sesungguhnya karena tidak tersedianya jam dinding, jendela, bingkai foto presidendan wakilnya, bingkai foto burung garuda, dan sejenisnya. Ini membuat kelas lebih terlihatseperti ruangan pada bimbingan belajar. Tapi alat belajar yang digunakan sudah modern danmengikui zaman yang membuat siswa dapat belajar dengan maksimal.

Testimoni
Saya sangat antusias dan senang saat ditugaskan untuk melakukan observasi ke sekolah. Terlebihlagi sekolah yang dikunjungi adalah sekolah yang menggunakan fasilitas modern dalammendukung proses belajar-mengajarnya. Kebanyakan siswa juga sangat antusias menerimakedatangan kami. Begitu juga dengan gurunya yang ramah dan menerima kami dengan baik.Pengalaman berkunjung ke sekolah ini menjadi kegiatan positif yang sangat bermanfaat buatsaya karena saya mendapatkan banyak pelajaran dalam melakukan proses ini.
Terimakasi Bu Dina :)

Daftar Pustaka :
Gredler, M. E. (2011). Learning and Instruction. Teori dan Aplikasi: edisi keenam. Jakarta: Kencana.